Home01Portfolio02Store03Services04Blog05About06Contact07Book Now08
// Status
Available for projects
← Kembali ke Portfolio

Shin Tae-yong Masterclass (Course)

Post-production 14 video course sepak bola bersama Coach Shin Tae Yong: 9 hari kerja efektif, satu bahasa yang tidak dipahami tim, dan pipeline yang dirancang agar handoff berjalan tanpa kebingungan.

// Kategori
Talkshow & Learning
// LayananVideo Production
// ClientShin Tae-yong
Shin Tae-yong Masterclass (Course)
// Tantangan

Project ini datang dengan dua kendala utama yang tidak bisa dikompromikan secara bersamaan: skala dan bahasa.

Klien membutuhkan 14 video course yang mengemas filosofi, taktik, dan studi kasus pertandingan dari Coach Shin Tae Yong — mantan pelatih Timnas Indonesia yang berbicara penuh dalam bahasa Korea. Seluruh tim post-production tidak memahami bahasa tersebut, sementara akurasi konten adalah fondasi dari video course ini. Kesalahan terjemahan bukan sekadar masalah teknis, melainkan risiko terhadap integritas materi.

Di sisi lain, timeline untuk seluruh post-production hanya 9 hari kerja efektif: shooting selesai 10 Maret, publish dijadwalkan 23 Maret. Dengan 14 video yang masing-masing mencakup beberapa take per pertanyaan, tidak ada ruang untuk alur kerja yang bergantung pada improvisasi. Dibutuhkan sistem yang bisa menjaga kualitas sekaligus menjamin handoff antara offline dan online editor berjalan tanpa hambatan.

// Pendekatan

Sistem Pencatatan dari Hari Pertama

Sebelum satu frame pun diedit, fondasi dimulai di set. Clapper dan logbook digunakan secara disiplin sejak detik pertama shooting: setiap take diberi penanda visual (bab, pertanyaan, nomor take), dan setiap take yang disetujui langsung dicatat file name-nya ke logbook. Pengambilan gambar dilakukan urut per pertanyaan tanpa melompat.

Saya memilih pendekatan manual ini karena dengan skala 14 video dalam satu hari shooting, take yang tidak disetujui harus langsung di-reject di set. Editor tidak boleh menanggung pekerjaan penyaringan ratusan file di meja editing. Logbook yang ketat adalah cara untuk memastikan yang masuk ke timeline hanya yang sudah pasti.

Workflow Terjemahan Bahasa Korea

Tidak ada jalan pintas untuk masalah bahasa. Translator on-set memiliki scope yang berbeda: tugasnya memastikan komunikasi produksi berjalan lancar selama shooting, bukan menyediakan subtitle untuk editing. Saya merancang alur lima langkah untuk menangani kebutuhan ini:

  1. Generate DaVinci Resolve AI Subtitle menghasilkan subtitle Korea otomatis dari audio.
  2. Translate File SRT diekspor, lalu diterjemahkan Korea ke Indonesia menggunakan Claude AI.
  3. Verify Setiap baris subtitle didengarkan ulang via Google Translate voice untuk dicocokkan dengan suara Coach STY.
  4. Rough Cut Setelah isi pembicaraan dipahami, rough cut baru dimulai.
  5. Pro Check Translator profesional bahasa Korea memfinalisasi subtitle Indonesia sebelum online editing.

AI mempercepat proses, tetapi tidak menggantikan verifikasi. Untuk video course dengan konten teknis sepak bola dari narasumber berbahasa asing, akurasi adalah hal yang tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke mesin.

Pipeline Dua Meja dan Batch Review

Post-production dibagi dua: offline editing (11-15 Maret) dan online editing (16-22 Maret), dengan kedua proses berjalan paralel di bagian overlap-nya. Saya tidak menunggu seluruh 14 video selesai sebelum mengirimkan preview. Sebaliknya, video dikirim per batch untuk di-review:

  • Batch 1: Bab 1-2
  • Batch 2: Bab 3-4
  • Batch 3: Bab 5-6
  • Batch 4: Bab 7-8

Sistem ini memastikan feedback dari agency dan klien masuk lebih awal, sehingga revisi tidak menumpuk di akhir timeline.

Bin Structure dan Draft Grading

Di DaVinci Resolve, bin disusun per pertanyaan dengan sub-folder Audio, CAM 1, CAM 2, dan Subtitle. Segmen khusus seperti Counter Pressing mendapat folder sendiri. Struktur ini identik untuk Q1 hingga Q14, ditambah Intro dan Closing.

Sebagai pelengkap handoff, draft grading disiapkan di tahap offline meski color grading adalah tanggung jawab online editor. Ini bukan final look, melainkan starting point: node CST, exposure, white balance, contrast, saturation, skin tone, dan vignette sudah di-setup agar preview layak ditonton klien saat batch review, sekaligus memberi konsistensi visual awal di antara 14 video. Online editor bebas mengadjust isinya sesuai visi mereka.

// Hasil

Seluruh 14 video course berhasil dipublikasikan sesuai jadwal pada 23 Maret, tanpa ada penundaan dari sisi post-production.

Sistem batch review terbukti efektif: feedback dari agency dan klien masuk lebih awal dalam proses, revisi tersebar merata, dan tidak ada akumulasi perubahan besar di hari-hari terakhir. Handoff dari offline ke online editor berjalan tanpa konflik berkat bin structure yang konsisten dan draft grading yang sudah menyediakan referensi visual.

Dari sisi akurasi konten, workflow terjemahan berlapis yang melibatkan AI dan translator profesional menghasilkan subtitle Indonesia yang bisa dipertanggungjawabkan, meski tidak satu anggota tim editing pun memahami bahasa Korea.

Project ini menunjukkan bahwa timeline ketat dan bahasa yang tidak dikenal bukan alasan untuk berkompromi dengan sistem. Justru karena kondisi tersebut, sistem harus dirancang lebih teliti dari awal.

// GEAR

Gear yang Dipakai untuk Project Ini

// CAMERA
  • Sony A7 IV
  • Sony A7C II
// LENS
  • Sony FE 24-70mm F2.8 GM
// EDITING TOOLS
  • DaVinci Resolve
  • Adobe After Effects
  • Claude

Next projects.